Rabu, 10 November 2010

BUKAN SAYA

Seorang anak diperempatan jalan, rambut "gembel" karena mandi di sungai yang kotor dan tak pernah disisir. Baju kumal, karena baju satu-satunya yang selalu dipakai tiap hari. Wajah kusut menahan lapar, hingga jam 11 siang belum makan apa-apa.Dengan suara memelas minta kasih sayang dari sesama, "Nyu... nyuwun ka... welasan pak". Al-Hamdulillah, kisah sedih itu bukan saya.

Ngeng....ngeng....nge....ng. Suara meraung dari sepeda yang di "bleyer". Dengan kecepatan tinggi menyela diantara deretan sepeda dan mobil yang berjalan lambat merayap. Terdengarlah suara keras ngeeeeng.....braaaa...k. Sepeda dalam perjalanan kecepatan tinggi menabrak truk

Minggu, 07 November 2010

dingin

Dingin terasa manakala suhu badan kita lebih tinggi dari suhu udara sekeliling kita. Sebaliknya terasa panas bila bila suhu udara melebihi suhu badan kita. Panas dingin merupakan hal wajar yang mesti terjadi dalam kehidupan.

Kamis, 28 Oktober 2010

Indah

PANDANGAN TENTANG KESELARASAN-KESEIMBANGAN- KESATUAN SEBAGAI DASAR KEINDAHAN,
KETERATURAN MENENTUKAN KEINDAHAN, TOLOK UKUR KETERATURAN AKHIRNYA BERUJUNG PADA KE-ILAHIAN,
PANCARAN KEINDAHAN ADALAH GEMILANGNYA KETERATURAN
(Agustinus 353M - 430M)

Senin, 25 Oktober 2010

Qori Anak Gunung Prahu

Dalam suatu perjalanan di bis patas Semarang Solo, aku duduk sendiri di deret kursi ketiga. Aku asih membaca koran menunggu bis berjalan. Tiba-tiba terdengar suara halus mempesona, "Boleh pak, aku duduk disini?". Aku secara reflek menatap tajam asal suara itu dan terpaku beberapa saat, hingga terdengar suara itu berulang, "Boleh pak, aku duduk disini?". Aku tersentak kaget dan menjawab gagap, "Bo..bo...boleh-boleh"

Gadis berjilbab putih itu menaruh tas di loker atas tempat duduk dan duduklah disampingku. Aku mengabaikan gadis nancantik jelita itu dan aku meneruskan membaca koran harian lokal Semarang. Setiap aku buka haralan koran, sesekali aku melirik gadis disampingku ternyata dia ikut membaca. Saya bolak-balik seluruh halaman koran, setelah sudah tidak ada lagi yang menarik, aku tutp, lalu aku tawarkan pada sigadis yang ada disampingku, "Ini dik, kalau mau baca?" Ia menjawab, "Tidak pak, aku sudah membaca seluruh isi koran itu bersama Bapak". Aku tercengag, dalam hatiku berkata, "Masak seluruh isi koran sudah dibaca, padahal waktunya singkat, padahal aku yang kemampuan membacanya jauh diatas kemampuan efektif membaca (KEM) saja hanya membaca bagian tertentu yang kuanggap menarik".

Lalu aku meyakinkan pada gadis itu, jangan-jangan ia malu, "Ini korannya dik, jangan malu, aku ikhlas kok". Gadis itu menegaskan, "Tidak malu pak, betul, aku telah membaca seluruh isi koran itu, kalau tidak percara dapat dites".

"O... ya, baiklah". Aku menghadap gadis itu, lalu aku membuka koran itu agar Sigadis tidak dapat melihat yang kubuka. Aku membuka halaman ke 3, lalu aku bertanya, "Di halaman 3 ada berapa kolom, Ada berapa judul, ada berapa tulisan sambungan". Gadis itu menjawab dengan cepat tanpa berfikir lama dan semuanya benar, "Ada 8 kolom, ada 6 judul baru dan ada 3 tulisan sambungan. Rasa takjubku berlanjut dan kulontarkan pertanyaan lanjutan, "Pada halaman 9 ada 3 judul tulisan, coba jelaskan". Gadis itu dengan lancar menjawab, "Kebakaran di pemukiman kumuh Jakarta, Banjir di Spanyol, dan Pemilukada di Bogor."

Rasa heran itu, membuatku ingin mengelnya. Koran kulipat lalu ku selipkan pada saku kursi depan tempat dudukku, maka perbincangan berlanjut antara Aku dan Gadis itu.
A: "Ini adik berangkat apa pulang?" G: "Aku berangkat pak, aku mau ke Solo dan ke Jogja". A: "Adi mahasiswi ya". G: "Bukan, aku dulu lulusan SMA lalu melanjutkan ke pondok pesantren". A: "Ke Solo dan Jogja silaturahmi ke saudara dik?" G: "Tidak pak, aku ditugasi Ibu Nyai (Istri Kyai) untuk membaca di perpustakaan UNS seminggi lalu sowan Raja Solo dan ke perpustakaan UGM seminggu lalu sowan Raja Jogja". A: Untuk apa itu dilakukan?" G: "Setelah 3 tahun aku ngaji dipesantren kata bu Nyai telah cukup, lalu aku disuruh menyempurnakan ilmuku dengan mencari di perguruan tinggi". A: "Apa cukup belajar di perguruan tinggi hanya dalam waktu dua minggu?" G: "Kata bu Nya cukup. Aku sehari sanggup membaca 10 buku dengan ketebalan 1.000 halaman. Kalau 14 hari berarti 140 buku induk. Di UNS aku akan membaca buku-buku komunikasi dan di UGM buku-buku filsafat. Ini daftar buku yang harus kubaca." A: "Maaf, sejak tadi kita saling sapa tapi belum kenal. Boleh kenalan dik?" G: "Boleh pak, namanu Qori, aku dari lereng gunung Prahu." A: "Senang berkenalan dengan anak jenius, Nama bapak, Esa, bapak tinggal Kentingan dekat dengan UNS. Kalau adik tidak keberatan selama di perpus UNS bisa tinggal di rumahku. Aku punya rumah yang selama ini kugunakan untuk kos putri mahasiswa. Kebetulan masih ada satu kamar kosong. Adik bisa tinggal disana, tidak usah membayar." G: " Al Hamdulillah, kau mudahkan langkah kami Ya Allah, Amiin. Dengan senang hati, terima kasih pak. Aku tidak susah-susah mencari pemondokan." A: "E... tidak terasa sudah sampai kerten, sebentar lagi sampai terminal". G: Ya... pak."

Bersambung
***